Alor, Surga di Timur Matahari
November 14, 2015 (No Comments) by D'traveller

Alor1 

“Alor memang indah, asal kita pandai menikmatinya” 

Travelistasia.com – Kata-kata bijak dari seorang mantan Bupati Kabupaten Alor, Ir. Ans Takalapeta, tersebut selalu terbesit dalam benak saya saat mendengar seorang teman berbicara perlahan sambil tersenyum saat tiba di Bandar Udara Mali, Kabupaten Alor. Perbukitan yang terlihat gersang dan kering sepanjang musim kemarau tampak mengiringi sepanjang perjalanan, dari situlah saya berpikir apa yang bisa dinikmati jika keadaan seperti ini.

30 menit perjalanan dari Bandar Udara Mali menuju Kalabahi, tibalah di hotel Pelangi Indah tempat dimana saya akan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan di keesokan hari untuk melihat dan mengasah kepandaian kita mengenal keindahan Alor dari dekat. Pukul 04.00 WITA, saya pun bergegas bangun untuk menikmati keindahan matahari terbit di pantai Mali yang letaknya dekat Bandar Udara Mali.

Sambil menikmati segelas kopi hangat yang sengaja saya persiapkan dari hotel, perlahan guratan warna merah berpadu biru dilangit mulai terlihat. Ombak nan tenang dan pohon yang tampak menyendiri di bibir pantai mulai berefleksi terkena sinar sang mentari yang terbit dari balik bukit.

Suara-suara mesin perahu para nelayan mulai meramaikan perairan laut di Alor. Perangkap ikan yang akrab disebut “Bubu” mulai diangkat diambil ikannya diganti dengan yang kosong dan jaring pukat yang biasa digunakan masyarakat pesisir pantai untuk mendapatkan ikan dalam jumlah banyak mulai ditebar keliling sepanjang garis pantai.

227

Masyarakat setempat mulai bahu-membahu menarik pukat yang cukup berat dan menguras tenaga. Beberapa menit berjalan, ditengah-tengah pukat tampak berloncatan ikan-ikan yang terperangkap dan masyarakat pun ramai berteriak “tarik, tarik dan tarik”. Bapak-bapak mulai turun ke air untuk mencegah ikan-ikan yang sudah terperangkap loncat keluar dan mengambil ikan-ikan yang cukup besar.

Sang pemilik pukat pun mulai membagi jatah bagi yang membantu menebar hingga menarik pukat, dan sisanya akan dijual sang pemilik dengan harga yang cukup berkawan. Waktu kian berjalan, rasa lapar pun mulai terasa melihat ikan-ikan segar yang tadi baru ditangkap oleh para nelayan. Teman pun mengajak ke salah satu rumah makan favorit di Alor yang terkenal dengan menu seafood-nya yang diolah dengan berbagai rasa.

Resto Mama, yang terletak di Jalan Buton, Kalabahi, memang dikenal sebagai specialis menu Ikan Kuah Asamnya. Resto milik Dra. Hj. Sri Inang Ananda Enga yang akrab disapa Mama Inang ini memiliki menu favorit yang diberi nama Ikan Kuah Asam Mama berbahan dasar dari ikan Kakap atau Kerapu diracik dengan bumbu khas dan kuah yang sedikit asam sungguh menggugah selera. Apalagi ditemani dengan Rumpurampe, daun ubi, jantung pohon pisang dan buah pepaya yang ditumis dicampur dengan bumbu juga menu Ikan Belame akan semakin melengkapi hasrat makan siang ini.

Perjalanan pun mulai saya tempuh kembali, melewati infrastruktur jalan yang kurang bersahabat dengan medan berliku dan menantang. Dimana bertahun-tahun silam hampir 185.000 penduduk disini terisolasi karena memang kebutuhan insfrastruktur yang tak terpenuhi dengan baik. Tetapi di era dewasa ini mungkin sedikit lebih baik dari sebelumnya, masyarakat pegunungan sedikit bisa menikmati kemudahan ketersediaan kendaraan masih tahap terbatas dan jalan pun mulai diperbaiki walaupun lambat.

“Kita memanggil kembali putra kelahiran Alor yang sudah sukses untuk membangun Alor. Kita mulai dari infrastruktur yang memang menjadi objek vital dalam pembangunan pariwisata Alor. Dan nanri akan dibuatnya hotel-hotel untuk menunjang akomodasi para wisatawan dunia yang datang ke Alor dalam waktu dekat ini”, kata Bupati Alor, Drs. Amon Djobo.

Kabupaten Alor juga salah satu pengrajin tenun terbaik di Indonesia, tenun-tenun bergaya tradisional yang masih menggunakan pewarna alam pun masih terdapat disini. Di era modern seperti ini, biasanya banyak tenun-tenun klasik sudah mengadaptasi dengan pewarna buatan yang mungkin terbilang mudah. Tetapi, di Desa Hula, Kecamatan Alor Barat Laut ini para pengrajin tenun cukup unik dan sangat alami.

Lebih dari 300 pewarna alam yang digunakan sebagai pewarna benang seperti akar kayu kuning, tinta cumi, tinta gurita, ampas madu, kayu pen, kulit pohon ketapang, biji jambu, sirih pinang, daun nila, kulit pohon mangga dan lainnya. Motifnya pun sangat beragam, adaptasi dari motif turun-temurun seperti ular naga yang dipergunakan untuk upacara Fatola, juga motif species hewan darat dan di laut pun juga dituangkan kedalam seni tenun.

Usai kagum dengan kerajinan tenun yang unik dan menarik, saya pun janji bertemu dengan instruktur dan penyelam profesional yang telah lama tinggal untuk menjalankan bisnisnya sebagai pelaku pariwisata di bidang penyedia jasa perjalanan bawah laut yang cukup ternama di Kabupaten Alor.

Dimensi Bawah Laut Kepulauan Alor

Thomas Schreiber, pemilik Alor Dive yang akan menemani saya menikmati keindahan bawah laut di sekitar perairan laut Alor ini ternyata mempunyai 45 titik selam yang beragam keindahannya. Mulai dari terumbu karang yang tersebar dan tertata dengan apik, biota-biota laut yang menarik sampai gua di dasar laut pun ada. “Banyak di Indonesia ini yang indah akan bawah lautnya, tetapi saya sangat tertarik di Alor karena sangat beragam keindahannya”, kata Thomas.

Keesokan harinya, Thomas pun mengajak saya untuk mencoba menyelam di beberapa titik selam yang ia temukan. Sepanjang perjalanan Thomas pun tak tinggal diam, matanya melihat ada sekerumunan ikan-ikan besar dan bergegas melempar pancing tempat dimana kerumunan ikan itu berada.

Dengan tehnik rolling, sambil perahu berjalan perlahan ia mencoba peruntungannya untuk mendapatkan ikan besar. Selain dikenal sebagai destinasi bawah lautnya, Alor memang terkenal dengan daya tarik memancing karena ikan-ikan disini terbilang besar dan mempunyai daya lawan yang kuat kepada para pemancing.

Di tengah laut nan tenang dan jernih, keindahan bawah laut sudah tampak terlihat dari atas permukaan. Dengan arahan dari Thomas, saya mulai menjelajahi bawah laut di Alor. Dari kejauhan ikan-ikan Baracuda yang membuat formasi layaknya tornado melingkar berjalan mengikuti arus. Bangkai kapal motor yang menjadi rumah para biota-biota laut pun terlihat sangat mengagumkan, apalagi terumbu karang yang terhias alami sebagai tempat berlindung dan makan para ikan-ikan sangatlah indah dinikmatinya. SENDY ADITYA SAPUTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

handphone-tablet

Video

FANS PAGE FACEBOOK

Category

Calendar

April 2018
M T W T F S S
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Asian Art

Alor, Surga di Timur Matahari
November 14, 2015 (No Comments) by D'traveller

Alor1 

“Alor memang indah, asal kita pandai menikmatinya” 

Travelistasia.com – Kata-kata bijak dari seorang mantan Bupati Kabupaten Alor, Ir. Ans Takalapeta, tersebut selalu terbesit dalam benak saya saat mendengar seorang teman berbicara perlahan sambil tersenyum saat tiba di Bandar Udara Mali, Kabupaten Alor. Perbukitan yang terlihat gersang dan kering sepanjang musim kemarau tampak mengiringi sepanjang perjalanan, dari situlah saya berpikir apa yang bisa dinikmati jika keadaan seperti ini.

30 menit perjalanan dari Bandar Udara Mali menuju Kalabahi, tibalah di hotel Pelangi Indah tempat dimana saya akan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan di keesokan hari untuk melihat dan mengasah kepandaian kita mengenal keindahan Alor dari dekat. Pukul 04.00 WITA, saya pun bergegas bangun untuk menikmati keindahan matahari terbit di pantai Mali yang letaknya dekat Bandar Udara Mali.

Sambil menikmati segelas kopi hangat yang sengaja saya persiapkan dari hotel, perlahan guratan warna merah berpadu biru dilangit mulai terlihat. Ombak nan tenang dan pohon yang tampak menyendiri di bibir pantai mulai berefleksi terkena sinar sang mentari yang terbit dari balik bukit.

Suara-suara mesin perahu para nelayan mulai meramaikan perairan laut di Alor. Perangkap ikan yang akrab disebut “Bubu” mulai diangkat diambil ikannya diganti dengan yang kosong dan jaring pukat yang biasa digunakan masyarakat pesisir pantai untuk mendapatkan ikan dalam jumlah banyak mulai ditebar keliling sepanjang garis pantai.

227

Masyarakat setempat mulai bahu-membahu menarik pukat yang cukup berat dan menguras tenaga. Beberapa menit berjalan, ditengah-tengah pukat tampak berloncatan ikan-ikan yang terperangkap dan masyarakat pun ramai berteriak “tarik, tarik dan tarik”. Bapak-bapak mulai turun ke air untuk mencegah ikan-ikan yang sudah terperangkap loncat keluar dan mengambil ikan-ikan yang cukup besar.

Sang pemilik pukat pun mulai membagi jatah bagi yang membantu menebar hingga menarik pukat, dan sisanya akan dijual sang pemilik dengan harga yang cukup berkawan. Waktu kian berjalan, rasa lapar pun mulai terasa melihat ikan-ikan segar yang tadi baru ditangkap oleh para nelayan. Teman pun mengajak ke salah satu rumah makan favorit di Alor yang terkenal dengan menu seafood-nya yang diolah dengan berbagai rasa.

Resto Mama, yang terletak di Jalan Buton, Kalabahi, memang dikenal sebagai specialis menu Ikan Kuah Asamnya. Resto milik Dra. Hj. Sri Inang Ananda Enga yang akrab disapa Mama Inang ini memiliki menu favorit yang diberi nama Ikan Kuah Asam Mama berbahan dasar dari ikan Kakap atau Kerapu diracik dengan bumbu khas dan kuah yang sedikit asam sungguh menggugah selera. Apalagi ditemani dengan Rumpurampe, daun ubi, jantung pohon pisang dan buah pepaya yang ditumis dicampur dengan bumbu juga menu Ikan Belame akan semakin melengkapi hasrat makan siang ini.

Perjalanan pun mulai saya tempuh kembali, melewati infrastruktur jalan yang kurang bersahabat dengan medan berliku dan menantang. Dimana bertahun-tahun silam hampir 185.000 penduduk disini terisolasi karena memang kebutuhan insfrastruktur yang tak terpenuhi dengan baik. Tetapi di era dewasa ini mungkin sedikit lebih baik dari sebelumnya, masyarakat pegunungan sedikit bisa menikmati kemudahan ketersediaan kendaraan masih tahap terbatas dan jalan pun mulai diperbaiki walaupun lambat.

“Kita memanggil kembali putra kelahiran Alor yang sudah sukses untuk membangun Alor. Kita mulai dari infrastruktur yang memang menjadi objek vital dalam pembangunan pariwisata Alor. Dan nanri akan dibuatnya hotel-hotel untuk menunjang akomodasi para wisatawan dunia yang datang ke Alor dalam waktu dekat ini”, kata Bupati Alor, Drs. Amon Djobo.

Kabupaten Alor juga salah satu pengrajin tenun terbaik di Indonesia, tenun-tenun bergaya tradisional yang masih menggunakan pewarna alam pun masih terdapat disini. Di era modern seperti ini, biasanya banyak tenun-tenun klasik sudah mengadaptasi dengan pewarna buatan yang mungkin terbilang mudah. Tetapi, di Desa Hula, Kecamatan Alor Barat Laut ini para pengrajin tenun cukup unik dan sangat alami.

Lebih dari 300 pewarna alam yang digunakan sebagai pewarna benang seperti akar kayu kuning, tinta cumi, tinta gurita, ampas madu, kayu pen, kulit pohon ketapang, biji jambu, sirih pinang, daun nila, kulit pohon mangga dan lainnya. Motifnya pun sangat beragam, adaptasi dari motif turun-temurun seperti ular naga yang dipergunakan untuk upacara Fatola, juga motif species hewan darat dan di laut pun juga dituangkan kedalam seni tenun.

Usai kagum dengan kerajinan tenun yang unik dan menarik, saya pun janji bertemu dengan instruktur dan penyelam profesional yang telah lama tinggal untuk menjalankan bisnisnya sebagai pelaku pariwisata di bidang penyedia jasa perjalanan bawah laut yang cukup ternama di Kabupaten Alor.

Dimensi Bawah Laut Kepulauan Alor

Thomas Schreiber, pemilik Alor Dive yang akan menemani saya menikmati keindahan bawah laut di sekitar perairan laut Alor ini ternyata mempunyai 45 titik selam yang beragam keindahannya. Mulai dari terumbu karang yang tersebar dan tertata dengan apik, biota-biota laut yang menarik sampai gua di dasar laut pun ada. “Banyak di Indonesia ini yang indah akan bawah lautnya, tetapi saya sangat tertarik di Alor karena sangat beragam keindahannya”, kata Thomas.

Keesokan harinya, Thomas pun mengajak saya untuk mencoba menyelam di beberapa titik selam yang ia temukan. Sepanjang perjalanan Thomas pun tak tinggal diam, matanya melihat ada sekerumunan ikan-ikan besar dan bergegas melempar pancing tempat dimana kerumunan ikan itu berada.

Dengan tehnik rolling, sambil perahu berjalan perlahan ia mencoba peruntungannya untuk mendapatkan ikan besar. Selain dikenal sebagai destinasi bawah lautnya, Alor memang terkenal dengan daya tarik memancing karena ikan-ikan disini terbilang besar dan mempunyai daya lawan yang kuat kepada para pemancing.

Di tengah laut nan tenang dan jernih, keindahan bawah laut sudah tampak terlihat dari atas permukaan. Dengan arahan dari Thomas, saya mulai menjelajahi bawah laut di Alor. Dari kejauhan ikan-ikan Baracuda yang membuat formasi layaknya tornado melingkar berjalan mengikuti arus. Bangkai kapal motor yang menjadi rumah para biota-biota laut pun terlihat sangat mengagumkan, apalagi terumbu karang yang terhias alami sebagai tempat berlindung dan makan para ikan-ikan sangatlah indah dinikmatinya. SENDY ADITYA SAPUTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

handphone-tablet

Video

FANS PAGE FACEBOOK

Category

Calendar

April 2018
M T W T F S S
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Asian Art