Baduy, The Million Tribes TaboosBaduy, Suku Sejuta Pantangan
July 25, 2013 (No Comments) by D'traveller

Kanekes people or people Baduy / Badui are an group in the Sunda sub-ethnic Lebak Banten district, and they still have a historical relationship with the Sundanese people in general. Baduy tribe is one of the tribes who apply isolation from the outside world.

The names “Badui” is given by residents outside the community groups, some say derives its name from the River and Mountain Baduy and some say from Arab badawi (nomadic tribes). They themselves prefer to call as urang Kanekes or “Baduy people” according to their region name.

Baduy people, if it is associated with their religious beliefs are the descendants of  Batara Cikal one of the seven gods who was sent down to Earth. There is also call that The Baduy are people who made ​​mandala (sacred area) formally by the king, because each population is obliged to raise kabuyutan or place of ancestor worship or ancestor, not Hinduism or Buddhism.

Baduy community are generally divided into three groups: Tangtu (Baduy in) that follows strict customs with his trademark all-white clothes and dark blue are not allowed to use the vehicle and also footwear when traveling.

In addition, through life relying on crops to support their daily lives, panamping (Outer Baduy) which is characterized by wearing a black headband.

There also is talk of Baduy tribe that no longer sacred because culture has been influenced by the outside as ranging from marriage, style of dress, lifestyle and technology influence

Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis sunda di wilayah kabupaten Lebak Banten, dan mereka masih memiliki hubungan sejarah dengan masyarakat sunda pada umumnya. Suku Baduy merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar.

Sebutan “Baduy” diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, ada yang bilang berasal dari nama Sungai Baduy dan Gunung Baduy dan ada juga yang bilang dari Arab badawi (suku nomaden). Mereka sendiri lebih suka menyebut sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka.

Orang Baduy, jika dikaitkan dengan kepercayaan yang mereka anut merupakan keturunan Batara Cikal yakni salah satu dari tujuh dewa yang diutus diturunkan ke Bumi. Ada juga menyebutkan bahwa Orang Baduy merupakan penduduk yang dijadikan mandala (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena tiap penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan atau tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang, bukan agama Hindu atau Budha.

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu (baduy dalam) yang mengikuti ketat adat istiadatnya dengan ciri khasnya memakai pakaian serba putih dan biru tua serta tidak diperbolehkan mengunakan kendaraan juga alas kaki kalau bepergian.

Selain itu, menjalani hidup dengan mengandalkan hasil bumi untuk menunjang kehidupan sehari-hari mereka, panamping (Baduy Luar) yang memiliki ciri memakai ikat kepala berwarna hitam.

Ada juga yang menyebut mereka Suku baduy yang tidak suci lagi dikarenakan telah terpengaruh oleh budaya luar seperti mulai dari perkawinan, gaya berpakaian, pola hidup dan pengaruh teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

handphone-tablet

Video

FANS PAGE FACEBOOK

Category

Calendar

December 2018
M T W T F S S
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Asian Art

Baduy, The Million Tribes TaboosBaduy, Suku Sejuta Pantangan
July 25, 2013 (No Comments) by D'traveller

Kanekes people or people Baduy / Badui are an group in the Sunda sub-ethnic Lebak Banten district, and they still have a historical relationship with the Sundanese people in general. Baduy tribe is one of the tribes who apply isolation from the outside world.

The names “Badui” is given by residents outside the community groups, some say derives its name from the River and Mountain Baduy and some say from Arab badawi (nomadic tribes). They themselves prefer to call as urang Kanekes or “Baduy people” according to their region name.

Baduy people, if it is associated with their religious beliefs are the descendants of  Batara Cikal one of the seven gods who was sent down to Earth. There is also call that The Baduy are people who made ​​mandala (sacred area) formally by the king, because each population is obliged to raise kabuyutan or place of ancestor worship or ancestor, not Hinduism or Buddhism.

Baduy community are generally divided into three groups: Tangtu (Baduy in) that follows strict customs with his trademark all-white clothes and dark blue are not allowed to use the vehicle and also footwear when traveling.

In addition, through life relying on crops to support their daily lives, panamping (Outer Baduy) which is characterized by wearing a black headband.

There also is talk of Baduy tribe that no longer sacred because culture has been influenced by the outside as ranging from marriage, style of dress, lifestyle and technology influence

Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis sunda di wilayah kabupaten Lebak Banten, dan mereka masih memiliki hubungan sejarah dengan masyarakat sunda pada umumnya. Suku Baduy merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar.

Sebutan “Baduy” diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, ada yang bilang berasal dari nama Sungai Baduy dan Gunung Baduy dan ada juga yang bilang dari Arab badawi (suku nomaden). Mereka sendiri lebih suka menyebut sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka.

Orang Baduy, jika dikaitkan dengan kepercayaan yang mereka anut merupakan keturunan Batara Cikal yakni salah satu dari tujuh dewa yang diutus diturunkan ke Bumi. Ada juga menyebutkan bahwa Orang Baduy merupakan penduduk yang dijadikan mandala (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena tiap penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan atau tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang, bukan agama Hindu atau Budha.

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu (baduy dalam) yang mengikuti ketat adat istiadatnya dengan ciri khasnya memakai pakaian serba putih dan biru tua serta tidak diperbolehkan mengunakan kendaraan juga alas kaki kalau bepergian.

Selain itu, menjalani hidup dengan mengandalkan hasil bumi untuk menunjang kehidupan sehari-hari mereka, panamping (Baduy Luar) yang memiliki ciri memakai ikat kepala berwarna hitam.

Ada juga yang menyebut mereka Suku baduy yang tidak suci lagi dikarenakan telah terpengaruh oleh budaya luar seperti mulai dari perkawinan, gaya berpakaian, pola hidup dan pengaruh teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

handphone-tablet

Video

FANS PAGE FACEBOOK

Category

Calendar

December 2018
M T W T F S S
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Asian Art