Menanti Senja di Bibir Cemara
December 1, 2015 (No Comments) by D'traveller

Wakatobi39

Wangi-Wangi, Travelistasia.com – Sore itu, usai pembukaan acara Wakatobi Wave, Wonderful Festival and Expo 2015, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 26-28 November 2015 yang mem-branding keindahan alam bawah laut Wakatobi dan membangun karakter manusia yang menjadi prioritas utama dengan budaya, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berjalan perlahan masuk ke dalam jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil.

Dua rumah yang menghimpit jalan itu, seakan kami tak bisa melihat sekitar, dan timbul pertanyaan hendak kemana sang supir membawa kami. Sampai teman seperjalanan bertanya, “ini kita mau kemana”?. Sang supir menjawab, ini kita menuju salah satu surganya Wakatobi, Pantai Cemara.

Hingga kendaraan berhenti, susunan pepohonan Cemara dan Kelapa yang berjajar di sepanjang bibir pantai Cemara serasa melindungi kami dari teriknya matahari. Pantai yang bersih terhampar pasir putih yang berpola mengikuti pergerakan angin dan beberapa kapal yang digunakan untuk mengangkut para penyelam untuk menikmati keindahan bawah laut Wakatobi tampak bersandar.

Pantai yang berjarak 30 menit dari pusat kota Wangi-Wangi ini tampak tak asing dibenak saya, melihat beberapa pantai-pantai di wilayah Indonesia Timur memang terkenal dengan pantai yang eksotis untuk itu saya mencari perbedaannya dengan pantai-pantai lain. Sambil berjalan berkeliling menyusuri bibir pantai yang sesekali merasakan jilatan ombak lautan Wakatobi ini.

Wakatobi16

Tak lama berjalan, terdengar beberapa anak kecil canda tawa dengan logat bahasa daerahnya yang saya tak mengerti sama sekali. Ketika saya mulai menghampiri mereka, terdengar lagi bahasa pelajaran matematika yakni angka-angka. Setelah mendekat ternyata mereka tengah belajar bersama mempelajari pelajaran matematika di bibir pantai di bawah pepohonan kelapa yang melindungi dari terik matahari.

Matematika sejatinya merupakan sebuah ilmu menemukan pola yang sebelumnya tidak pernah terpolakan, yang menggunakan bahasa angka-angka dan hitungan untuk menemukan jawabannya. Tersadar, bahwa ilmu matematika dasar yang mereka pejalari sekarang tampak sedikit lebih sulit dibanding kurikulum sebelumnya. Terkadang apabila mereka menemukan jalan buntu dari pelajaran yang dipelajari mereka tampak bercanda tawa untuk menghilangkan penat dalam pikirannya.

Wakatobi46

Sesekali salah satu anak menaiki pohon kelapa yang sedikit tinggi lalu berayun selayaknya anak itu terbang bebas. Dimana seumuran mereka belajar dan bermain menjadi hal yang harus selaras selama menempuh kehidupan beranjak dewasa. Disitulah saya menemukan pola yang asik dari anak-anak itu dan menjadikan ayunan dan pohon kelapa yang memiliki kemiringan beberapa derajat ini sebagai pembeda dari pantai-pantai lainnya.

Senja bersiap berganti malam, sebelum pulang bersama-sama teman kerumahnya masing-masing, anak itu mencoba berayun untuk yang terakhir kalinya dipadu dengan indahnya warna-warni senja khas langit. Tak lama teman seperjalanan menghampiri untuk mencoba berayun mengikuti anak itu dan mengabadikan kedalam lukisan cahaya yang sulit untuk dilupakan selama di pantai Cemara sambil menikmati senja. SENDY ADITYA SAPUTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

handphone-tablet

Video

FANS PAGE FACEBOOK

Category

Calendar

October 2018
M T W T F S S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Asian Art

Menanti Senja di Bibir Cemara
December 1, 2015 (No Comments) by D'traveller

Wakatobi39

Wangi-Wangi, Travelistasia.com – Sore itu, usai pembukaan acara Wakatobi Wave, Wonderful Festival and Expo 2015, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 26-28 November 2015 yang mem-branding keindahan alam bawah laut Wakatobi dan membangun karakter manusia yang menjadi prioritas utama dengan budaya, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berjalan perlahan masuk ke dalam jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil.

Dua rumah yang menghimpit jalan itu, seakan kami tak bisa melihat sekitar, dan timbul pertanyaan hendak kemana sang supir membawa kami. Sampai teman seperjalanan bertanya, “ini kita mau kemana”?. Sang supir menjawab, ini kita menuju salah satu surganya Wakatobi, Pantai Cemara.

Hingga kendaraan berhenti, susunan pepohonan Cemara dan Kelapa yang berjajar di sepanjang bibir pantai Cemara serasa melindungi kami dari teriknya matahari. Pantai yang bersih terhampar pasir putih yang berpola mengikuti pergerakan angin dan beberapa kapal yang digunakan untuk mengangkut para penyelam untuk menikmati keindahan bawah laut Wakatobi tampak bersandar.

Pantai yang berjarak 30 menit dari pusat kota Wangi-Wangi ini tampak tak asing dibenak saya, melihat beberapa pantai-pantai di wilayah Indonesia Timur memang terkenal dengan pantai yang eksotis untuk itu saya mencari perbedaannya dengan pantai-pantai lain. Sambil berjalan berkeliling menyusuri bibir pantai yang sesekali merasakan jilatan ombak lautan Wakatobi ini.

Wakatobi16

Tak lama berjalan, terdengar beberapa anak kecil canda tawa dengan logat bahasa daerahnya yang saya tak mengerti sama sekali. Ketika saya mulai menghampiri mereka, terdengar lagi bahasa pelajaran matematika yakni angka-angka. Setelah mendekat ternyata mereka tengah belajar bersama mempelajari pelajaran matematika di bibir pantai di bawah pepohonan kelapa yang melindungi dari terik matahari.

Matematika sejatinya merupakan sebuah ilmu menemukan pola yang sebelumnya tidak pernah terpolakan, yang menggunakan bahasa angka-angka dan hitungan untuk menemukan jawabannya. Tersadar, bahwa ilmu matematika dasar yang mereka pejalari sekarang tampak sedikit lebih sulit dibanding kurikulum sebelumnya. Terkadang apabila mereka menemukan jalan buntu dari pelajaran yang dipelajari mereka tampak bercanda tawa untuk menghilangkan penat dalam pikirannya.

Wakatobi46

Sesekali salah satu anak menaiki pohon kelapa yang sedikit tinggi lalu berayun selayaknya anak itu terbang bebas. Dimana seumuran mereka belajar dan bermain menjadi hal yang harus selaras selama menempuh kehidupan beranjak dewasa. Disitulah saya menemukan pola yang asik dari anak-anak itu dan menjadikan ayunan dan pohon kelapa yang memiliki kemiringan beberapa derajat ini sebagai pembeda dari pantai-pantai lainnya.

Senja bersiap berganti malam, sebelum pulang bersama-sama teman kerumahnya masing-masing, anak itu mencoba berayun untuk yang terakhir kalinya dipadu dengan indahnya warna-warni senja khas langit. Tak lama teman seperjalanan menghampiri untuk mencoba berayun mengikuti anak itu dan mengabadikan kedalam lukisan cahaya yang sulit untuk dilupakan selama di pantai Cemara sambil menikmati senja. SENDY ADITYA SAPUTRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

handphone-tablet

Video

FANS PAGE FACEBOOK

Category

Calendar

October 2018
M T W T F S S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Asian Art