Eksotisme Tapal Kuda Jawa Timur
November 14, 2015 (No Comments) by D'traveller

Bondowoso7

Travelistasia.com - Telah lama saya mendengar daerah dengan sebutan “Tapal Kuda” di Jawa Timur. Tetapi ungkapan tersebut ternyata tak banyak orang yang mengetahui, jangan pun pesona keindahannya, letak daerahnya saja memang banyak yang tak tahu.

Akhirnya saya memutuskan untuk research bagaimana potensi-potensi wisata di daerah Tapal Kuda di Jawa Timur tersebut sebelum membawa kamera kesayangan dan tas ransel menuju kesana, agar saya dapat banyak mengetahui tata letak secara geografis, transportasi, potensi wisata, suasana dan jam yang tepat untuk motret di spot-spot tersebut.

Tapal Kuda merupakan nama sebuah daerah di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda karena memang kawasan tersebut dalam peta mirip dengan Tapal Kuda, yang meliputi daerah Bondowoso, Jember, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan dan Banyuwangi.

Alhasil, saya pun tertarik untuk menjelajahi lebih jauh dua daerah yang letaknya ternyata sangat berdekatan yakni Jember dan Bondowoso. Dimana jarak antara kedua daerah ini bisa ditempuh dengan kendaraan hanya 40 menit saja dan cukup banyak orang yang tidak mengetahui keindahannya. Mungkin bagi para fotografer atupun traveller yang hanya punya waktu 4 – 5 hari saja destinasi di daerah ini cukup untuk di jelajahi.

Mungkin dari sisi transportasi terlihat sangat mudah apabila ingin mengunjungi kedua daerah ini. apabila start dari Surabaya menuju Jember bisa menggunakan kereta yang berhenti di Stasiun Jember ataupun pesawat yang landing di Bandara Notohadinegoro, Jember.

Setibanya di kota yang terkenal dengan fashion carnaval yang kabarnya sebagai carnaval terbesar no.4 di dunia ini memang tampak terlihat pada bandara Notohadinegoro, Jember. Ucapan selamat datang di kota ini tergambar dari sebuah billboard besar dengan gambar Jember Fashion Carnaval, pantai dan wisata lainnya.

Walaupun sudah tiba di Jember, tetapi saya lebih memilih untuk menjelajahi Bondowoso terlebih dahulu dengan suasana pegunungan lalu ditutup dengan berkunjung di Jember dengan atmosfer pantai yang menjadi daftar 10 pantai terindah di Indonesia versi para Backpacker dan TripAdvisor.

Bondowoso4

Ditemankan oleh Daniel dan Slamet dari Himpunan Pramuwisata kabupaten Bondowoso, kami pun berangkat ke kota yang terkenal juga seni dan kulinernya. Sekitar 40 menit perjalanan, Flodista Gallery milik Frans yang terletak di Jalan Santawi menjadi incaran saya untuk memotret kerajinan recycle dengan bahan dasar kayu, kertas, pelepah pohon pisang, bambu, kayu mahoni, kulit telur, batok kelapa dan lainnya yang dijadikan sebagai karya seni nan berharga tinggi.

Dari jauh mata saya terasa ditarik oleh topeng yang tadinya berbahan dasar kayu ternyata kertas koran yang dicampur dengan bahan tertentu menjadi keras lalu diukir menjadi topeng. “Biasanya topeng itu dari bahan dasar kayu lalu diukir menjadi topeng, tetapi kita coba hal yang berbeda dengan bahan dasar koran”, kata Frans.

Bondowoso6

Asik motret di Flodista Gallery, sampai Daniel dan Slamet mengingatkan saya untuk makan siang terlebih dahulu mencicipi makanan khas Bondowoso. Ternyata sangat dekat jaraknya dengan Flodista Gallery hanya berseberangan jalan saja. Akhirnya saya dikenalkan oleh Rifka Jannatin yang kebetulan pemilik ODL Resto.

Nasi Mamong, dari namanya memang tampak asing di telinga kita. Mamong berasal dari kata Madura yang berarti bingung. Jadi filosofi dari nasi Mamong ini ternyata kerena nasi yang diolah dengan rasa pedas dicampur dengan potongan singkong, dan bahan-bahan lainnya disajikan dengan timun, sambel bawang dan kerupuk gembreng.

Nasi Mamong 2

Karena rasa pedasnya dari makanan tersebut orang akan terasa bingung mau berbuat apa. Kenyang dengan nasi Mamong, hidangan selanjutnya asiknya dengan Rujak Gobet. Singkong yang serut dicampur dengan pisang batu, diolah dengan bumbu kacang, asam dan cuka menjadi hidangan penutup yang khas dan istimewa.

Pesona Kawah Ijen

Memang tak diragukan lagi bahwa keindahan Kawah Ijen telah mendapatkan tempat di hati para traveller. Khas pegunungan nan indah berpadun dengan danau di kawah yang berwarna kehijauan, api biru dan aktifitas para penambang belerang yang sudah turun-temurun.

Tetapi, di telinga traveller memang sudah akrab apabila ingin berkunjung ke Kawah Ijen melalui Banyuwangi. Karena memang Pemerintah Daerah Banyuwangi lebih gencar mempromosikan Kawah Ijen. Nah, kendati seperti itu saya pun tak mau sejalan dengan para traveller yang kerap mengawali langkahnya menuju Kawah Ijen melalui Banyuwangi.

Karena letak geografis Kawah Ijen masuk ke dalam Bondowoso dan Banyuwangi, saya pun mengawali langkah lewat Bondowoso. Karena menurut kabar yang saya dapatkan apabila ke Kawah Ijen berangkat dari Bondowoso saya lebih banyak mendapatkan objek foto yang indah.

Dimulai dengan menjelajahi perkebunan kopi Jampit dan Blawan di daerah Kalisat. Udara pegunungan nan sejuk membawa aroma khas buah-buahan kopi arabika yang baru dipetik membuat tergoda untuk menikmati secangkir kopi. Apalagi kopi arabika Jampit dan Blawan terkenal di mancanegara dengan Java Coffee bercita rasa pahit dan masam.

Kawah Wurung 11

Usai asik menikati kopi, saya bergegas untuk mendaki melewati sisi tertinggi untuk menikmati mentari pagi di Kawah Ijen dan Kawah Wurung. Untuk melewati Kawah Wurung kami harus melewati padang sabana nan luas dengan pemandangan bukit-bukit nan berjajar berselimut hijaunya rerumputan.

Kawah Wurung 15

Perjalanan letih terbayar sudah melihat Sang sumber cahaya dalam letak tata surya memulai menyinari bumi Jawa di puncak pegunungan Ijen. Wisatawan mancanegara dan domestik yang menyebar sepanjang puncak pegunugan Ijen bersiap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan momen matahari terbit menjadi objek yang menarik untuk foto.

Bondowoso9

Karena waktu yang amat singkat, kami bergegas turun gunung melanjutkan ke Kawah Wurung dengan sesekali sepanjang perjalanan turun memotret aktifitas sang penambang belerang yang saat ini telah disediakan gerobak kecil untuk mengangkat belerang yang cukup berat sampai ke bawah. Dengan disediakan gerobak ini, agar memudahkan para penambang untuk tidak memanggul belerang yang beratnya bisa mencapai 60kg.

Bondowoso8

Dan sampainya di Kawah Wurung kami pun tak sendiri, sejumlah atlet pemula paralayang tengah terbang di atas Kawah Wurung. Dari ketinggian memang terlihat sangat elok dan memesona di mata, dengan luasnya kawah ditutupi padang sabana dan sesekali penunggang kuda melintasi di tengah-tengah ilalang yang sedang mencari pangan untuk hewannya.

Usai memanjakan mata di Kawah Wurung, kami pun bergegas turun untuk menikmati tempat wisata lain yakni air terjun Blawan, Arung Jeram Bosamba dan mampir ke Batik Tulis Sumbersari. 

Dari Kota Kecil Menjadi Kota Destinasi Wisata Dunia

Berpisah dengan Daniel dan Slamet, saya pun mendapat teman baru dari Kantor Pariwisata dan Kabupaten Jember, Yungky, Argo, Frans, Endi dan Andika untuk mengantar saya menjelajahi lebih dalam di Jember yang terkenal akan fashion Carnavalnya dan pesona pantainya.

Inilah Kabupaten Jember, yang dahulu merupakan sebuah kota kecil yang kaya akan sektor agraria yakni pertanian dan perkebunan, di era dewasa ini telah tumbuh dan berkembang menjadi pusat kota kreatif dunia akan fashionnya dan disertai keindahan alam yang memesona.

JFC 15

Jember memang menjadi tujuan para fotografer dunia ketika ajang perhelatan Jember Fashion Carnaval yang terbesar ke-4 dunia di helat setiap tahunnya. Di stage yang telah disediakan, para fotografer berlomba untuk mengabadikan momen para talent JFC 2015 yang bertemakan “Outframe, Kreatifitas Tanpa Batas”.

Usai motret perhelatan JFC 2015, saya pun bergegas menjemput Yuliandi Kusuma, seorang sahabat dari Majalah Travel Fotografi yang bersama saya dan Agus Supriadi dipercayai untuk menjadi juri lomba foto yang diadakan Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember. Terbuai akan keindahaan dari hasil foto-foto yang kami nilai, akhirnya kami menyempatkan diri untuk datang ke Pantai Tanjung Papuma, yang kabarnya masuk ke dalam 10 pantai terindah di Indonesia dan tersohor namanya dikalangan para pecinta landscape.

Satu jam berlalu, deru suara mesin mobil terdengar pelan dan kecepatan pun mulai perlahan membuat saya terbangun dari tidur sesaat. Usai membayar tiket masuk seharga lima belas ribu rupiah, deru suara mobil mulai terdengar kencang ditelinga dengan medan menanjak melewati bukit berbatu cadas.4

Teman dari Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Jember pun memberhentikan mobil menyuruh kami untuk keluar menikmati pemandangan lekukan tanjung pantai Papuma dari ketinggian yang sungguh memesona. Menuju bibir pantai dengan medan yang menurun, kapal-kapal berwarna-warni para nelayan yang tengah bersandar usai melaut tampak berjajar sepanjang bibir pantai.

Para pengunjung terlihat asik kumpul bersama menghabiskan waktu bermain ombak dari tepian pantai, memancing dan bersantai di rumah-rumah makan dengan menu utama seafood dan rindangnya pepohonan yang sejuk melindungi panas matahari saat siang hari. Bagi yang ingin menjelajahi penuh diseputar pantai Papuma, pengunjung dapat mencoba trekking, outbound dan climbing di tempat yang telah disediakan juga ditemani oleh pemandu profesional juga tentunya.

papuma

Waktu mulai menunjukkan pukul 05.30 WIB, Warna pepohonan dan pasir pantai mulai berwarna kekuningan, bias kemerahan dan birunya langit mulai terlihat, beberapa kami bergegas naik menuju Siti Hinggil untuk melihat keindahan mentari mengakhiri tugasnya hari ini menerangi bumi Jember.

Air laut yang mulai naik dan karakter karang-karang besar nan gagah menjulang tinggi yang memecah dengan deburan ombak khas laut selatan menjadi panorama khas sunset di pantai Papuma. Karakter bebatuan dan keunikan bukan hanya dapat melihat sunset tetapi momentum sunrise pun dapat kita lihat di pantai ini.

6

Dengan pemandangan yang indah diramaikan oleh datangnya para nelayan membawa hasil tangkapannya, menjadi gambaran panorama indah di Papuma. Bukan hanya itu, kami pun dapat mengabadikan momentum milkyways dari bibir pantai. Pantai Tanjung Papuma yang kian tersohor namanya di telinga wisatawan domestik hingga mancanegara, sungguh memikat mata untuk semakin lama menikmatinya.

PAPUMA 15

Lanjut ke Pantai Payangan merupakan salah satu spot pantai yang indah di Kabupaten Jember. Pantai yang mulai mendapat perhatian dan kunjungan oleh para wisatawan ini ternyata tak kalah menarik. Panorama bibir pantai yang dilihat dari ketinggian menjadi khas dari pantai Payangan ini. Warna-warni perahu nelayan yang tengah bersandar di bibir pantai, hutan mangrove dan padang savana mini yang terhampar menjadi daya tarik tersendiri dari pantai Payangan ini. 

Tak jauh dari pantai Payangan sekitar 15 menit menggunakan kendaraan bermotor, pasir hitam yang terhampar sepanjang bibir pantai Watu Ulo juga merupakan destinasi pantai yang menarik. Nama pantai Watu Ulo berasal bahasa jawa yakni “batu ular” tersusun memang layaknya batu berbentuk ular.

WATU ULO 4

Tetapi, susunan batu yang seakan berbentuk ular itu mulai terkikis oleh ombak laut selatan yang terkenal besar. Yang sebelumnya, terlihat Watu Ulo tampak memanjang menjorok ke arah lautan, tetapi saat ini mulai mengalami mengikisan.

Keesokan harinya, karena Jember juga terkenal akan perkebunan kopi dan kakao, kami pun sengaja berangkat dari hotel pagi hari untuk datang ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, dimana sebagai tempat penelitian Kopi dan Kakao satu-satunya di Indonesia yang terletak di Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji, sekitar 12 km ke arah selatan 1 jam perjalanan dari Kota Jember.

puslit 1

Wisatawan bisa berwisata di areal perkebunan yang ditanami Kopi dan Kakao, juga komoditas pepohonan Mahoni. Di areal perkebunan seluas 160 hektar, para kita akan diajak untuk berkeliling menikmati keindahan perkebunan Kopi dan Kakao sambil menyaksikan sekaligus mempelajari pembibitan dan pembenihan, proses pengolahan dan menikmati secara langsung. Jika kita datang saat pagi hari sekitar kurang lebih 500 pekerja di perkebunan datang dengan sepeda khas onthel melewati rimbunnya pepohonan Mahoni yang cocok dijadikan objek foto human interest.

Asik hunting foto, tak terasa malam pun tiba. Berjalan di atas jembatan Jalan Mastrip, Kabupaten Jember, sekilas terdengar alunan nada musik yang semakin malam kian ramai. Rasa penasaran pun kian merasuki diri untuk mencari sumber nada-nada tersebut. Berjalan turun ke bawah, kendaraan bermotor memadati ruang parkir di sepanjang bawah jembatan.

kolong7

Suara alunan musik dan para kawula muda-mudi ramai berkumpul bernyanyi bersama menikmati malam panjang di sebuah Kafe yang menarik di kabupaten Jember ini. Meja dan kursi dari anyaman bambu yang memenuhi seisi kafe, tampak selalu padat setiap malamnya.

Kafe Kolong muncul dari ide liar Johanes Kris Astono, seorang pegiat organisasi pecinta alam Fakultas Ekonomi Universitas Jember. “Sebelumnya memang ingin punya warung kopi sendiri untuk nongkrong. Namun ini bukan kedai sembarangan, terdengar suara gemericik air sungai yang menemani kenikmatan minum secangkir kopi”, kata pria kelahiran Jember, 1 Desember 1970.

Sebelumnya, kolong jembatan ini memang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, tempat mabuk, judi dan lainnya. Dengan ide cemerlang Johanes inilah, konsep ruang kosong di sebuah kolong jembatan di sulap menjadi tempat nongkrong nyaman dan luar biasa. Kafe Kolong menjadi salah satu tempat yang dituju anak-anak muda dari luar kota yang datang ke Jember. Mereka berasal dari Surabaya, Malang, Jogjakarta dan lain-lain. Semua memuji dan suka dengan suasana kafe itu.

Minuman dan makanannya pun terbilang sederhana dengan harga yang cukup murah tentunya. Anda pun bisa memilih berbagai macam olahan kopi yang disajikan nikmat dengan atmosfer kafe yang sempurna. SENDY ADITYA SAPUTRA

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

handphone-tablet

Video

FANS PAGE FACEBOOK

Category

Calendar

December 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Asian Art

Eksotisme Tapal Kuda Jawa Timur
November 14, 2015 (No Comments) by D'traveller

Bondowoso7

Travelistasia.com - Telah lama saya mendengar daerah dengan sebutan “Tapal Kuda” di Jawa Timur. Tetapi ungkapan tersebut ternyata tak banyak orang yang mengetahui, jangan pun pesona keindahannya, letak daerahnya saja memang banyak yang tak tahu.

Akhirnya saya memutuskan untuk research bagaimana potensi-potensi wisata di daerah Tapal Kuda di Jawa Timur tersebut sebelum membawa kamera kesayangan dan tas ransel menuju kesana, agar saya dapat banyak mengetahui tata letak secara geografis, transportasi, potensi wisata, suasana dan jam yang tepat untuk motret di spot-spot tersebut.

Tapal Kuda merupakan nama sebuah daerah di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda karena memang kawasan tersebut dalam peta mirip dengan Tapal Kuda, yang meliputi daerah Bondowoso, Jember, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan dan Banyuwangi.

Alhasil, saya pun tertarik untuk menjelajahi lebih jauh dua daerah yang letaknya ternyata sangat berdekatan yakni Jember dan Bondowoso. Dimana jarak antara kedua daerah ini bisa ditempuh dengan kendaraan hanya 40 menit saja dan cukup banyak orang yang tidak mengetahui keindahannya. Mungkin bagi para fotografer atupun traveller yang hanya punya waktu 4 – 5 hari saja destinasi di daerah ini cukup untuk di jelajahi.

Mungkin dari sisi transportasi terlihat sangat mudah apabila ingin mengunjungi kedua daerah ini. apabila start dari Surabaya menuju Jember bisa menggunakan kereta yang berhenti di Stasiun Jember ataupun pesawat yang landing di Bandara Notohadinegoro, Jember.

Setibanya di kota yang terkenal dengan fashion carnaval yang kabarnya sebagai carnaval terbesar no.4 di dunia ini memang tampak terlihat pada bandara Notohadinegoro, Jember. Ucapan selamat datang di kota ini tergambar dari sebuah billboard besar dengan gambar Jember Fashion Carnaval, pantai dan wisata lainnya.

Walaupun sudah tiba di Jember, tetapi saya lebih memilih untuk menjelajahi Bondowoso terlebih dahulu dengan suasana pegunungan lalu ditutup dengan berkunjung di Jember dengan atmosfer pantai yang menjadi daftar 10 pantai terindah di Indonesia versi para Backpacker dan TripAdvisor.

Bondowoso4

Ditemankan oleh Daniel dan Slamet dari Himpunan Pramuwisata kabupaten Bondowoso, kami pun berangkat ke kota yang terkenal juga seni dan kulinernya. Sekitar 40 menit perjalanan, Flodista Gallery milik Frans yang terletak di Jalan Santawi menjadi incaran saya untuk memotret kerajinan recycle dengan bahan dasar kayu, kertas, pelepah pohon pisang, bambu, kayu mahoni, kulit telur, batok kelapa dan lainnya yang dijadikan sebagai karya seni nan berharga tinggi.

Dari jauh mata saya terasa ditarik oleh topeng yang tadinya berbahan dasar kayu ternyata kertas koran yang dicampur dengan bahan tertentu menjadi keras lalu diukir menjadi topeng. “Biasanya topeng itu dari bahan dasar kayu lalu diukir menjadi topeng, tetapi kita coba hal yang berbeda dengan bahan dasar koran”, kata Frans.

Bondowoso6

Asik motret di Flodista Gallery, sampai Daniel dan Slamet mengingatkan saya untuk makan siang terlebih dahulu mencicipi makanan khas Bondowoso. Ternyata sangat dekat jaraknya dengan Flodista Gallery hanya berseberangan jalan saja. Akhirnya saya dikenalkan oleh Rifka Jannatin yang kebetulan pemilik ODL Resto.

Nasi Mamong, dari namanya memang tampak asing di telinga kita. Mamong berasal dari kata Madura yang berarti bingung. Jadi filosofi dari nasi Mamong ini ternyata kerena nasi yang diolah dengan rasa pedas dicampur dengan potongan singkong, dan bahan-bahan lainnya disajikan dengan timun, sambel bawang dan kerupuk gembreng.

Nasi Mamong 2

Karena rasa pedasnya dari makanan tersebut orang akan terasa bingung mau berbuat apa. Kenyang dengan nasi Mamong, hidangan selanjutnya asiknya dengan Rujak Gobet. Singkong yang serut dicampur dengan pisang batu, diolah dengan bumbu kacang, asam dan cuka menjadi hidangan penutup yang khas dan istimewa.

Pesona Kawah Ijen

Memang tak diragukan lagi bahwa keindahan Kawah Ijen telah mendapatkan tempat di hati para traveller. Khas pegunungan nan indah berpadun dengan danau di kawah yang berwarna kehijauan, api biru dan aktifitas para penambang belerang yang sudah turun-temurun.

Tetapi, di telinga traveller memang sudah akrab apabila ingin berkunjung ke Kawah Ijen melalui Banyuwangi. Karena memang Pemerintah Daerah Banyuwangi lebih gencar mempromosikan Kawah Ijen. Nah, kendati seperti itu saya pun tak mau sejalan dengan para traveller yang kerap mengawali langkahnya menuju Kawah Ijen melalui Banyuwangi.

Karena letak geografis Kawah Ijen masuk ke dalam Bondowoso dan Banyuwangi, saya pun mengawali langkah lewat Bondowoso. Karena menurut kabar yang saya dapatkan apabila ke Kawah Ijen berangkat dari Bondowoso saya lebih banyak mendapatkan objek foto yang indah.

Dimulai dengan menjelajahi perkebunan kopi Jampit dan Blawan di daerah Kalisat. Udara pegunungan nan sejuk membawa aroma khas buah-buahan kopi arabika yang baru dipetik membuat tergoda untuk menikmati secangkir kopi. Apalagi kopi arabika Jampit dan Blawan terkenal di mancanegara dengan Java Coffee bercita rasa pahit dan masam.

Kawah Wurung 11

Usai asik menikati kopi, saya bergegas untuk mendaki melewati sisi tertinggi untuk menikmati mentari pagi di Kawah Ijen dan Kawah Wurung. Untuk melewati Kawah Wurung kami harus melewati padang sabana nan luas dengan pemandangan bukit-bukit nan berjajar berselimut hijaunya rerumputan.

Kawah Wurung 15

Perjalanan letih terbayar sudah melihat Sang sumber cahaya dalam letak tata surya memulai menyinari bumi Jawa di puncak pegunungan Ijen. Wisatawan mancanegara dan domestik yang menyebar sepanjang puncak pegunugan Ijen bersiap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan momen matahari terbit menjadi objek yang menarik untuk foto.

Bondowoso9

Karena waktu yang amat singkat, kami bergegas turun gunung melanjutkan ke Kawah Wurung dengan sesekali sepanjang perjalanan turun memotret aktifitas sang penambang belerang yang saat ini telah disediakan gerobak kecil untuk mengangkat belerang yang cukup berat sampai ke bawah. Dengan disediakan gerobak ini, agar memudahkan para penambang untuk tidak memanggul belerang yang beratnya bisa mencapai 60kg.

Bondowoso8

Dan sampainya di Kawah Wurung kami pun tak sendiri, sejumlah atlet pemula paralayang tengah terbang di atas Kawah Wurung. Dari ketinggian memang terlihat sangat elok dan memesona di mata, dengan luasnya kawah ditutupi padang sabana dan sesekali penunggang kuda melintasi di tengah-tengah ilalang yang sedang mencari pangan untuk hewannya.

Usai memanjakan mata di Kawah Wurung, kami pun bergegas turun untuk menikmati tempat wisata lain yakni air terjun Blawan, Arung Jeram Bosamba dan mampir ke Batik Tulis Sumbersari. 

Dari Kota Kecil Menjadi Kota Destinasi Wisata Dunia

Berpisah dengan Daniel dan Slamet, saya pun mendapat teman baru dari Kantor Pariwisata dan Kabupaten Jember, Yungky, Argo, Frans, Endi dan Andika untuk mengantar saya menjelajahi lebih dalam di Jember yang terkenal akan fashion Carnavalnya dan pesona pantainya.

Inilah Kabupaten Jember, yang dahulu merupakan sebuah kota kecil yang kaya akan sektor agraria yakni pertanian dan perkebunan, di era dewasa ini telah tumbuh dan berkembang menjadi pusat kota kreatif dunia akan fashionnya dan disertai keindahan alam yang memesona.

JFC 15

Jember memang menjadi tujuan para fotografer dunia ketika ajang perhelatan Jember Fashion Carnaval yang terbesar ke-4 dunia di helat setiap tahunnya. Di stage yang telah disediakan, para fotografer berlomba untuk mengabadikan momen para talent JFC 2015 yang bertemakan “Outframe, Kreatifitas Tanpa Batas”.

Usai motret perhelatan JFC 2015, saya pun bergegas menjemput Yuliandi Kusuma, seorang sahabat dari Majalah Travel Fotografi yang bersama saya dan Agus Supriadi dipercayai untuk menjadi juri lomba foto yang diadakan Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember. Terbuai akan keindahaan dari hasil foto-foto yang kami nilai, akhirnya kami menyempatkan diri untuk datang ke Pantai Tanjung Papuma, yang kabarnya masuk ke dalam 10 pantai terindah di Indonesia dan tersohor namanya dikalangan para pecinta landscape.

Satu jam berlalu, deru suara mesin mobil terdengar pelan dan kecepatan pun mulai perlahan membuat saya terbangun dari tidur sesaat. Usai membayar tiket masuk seharga lima belas ribu rupiah, deru suara mobil mulai terdengar kencang ditelinga dengan medan menanjak melewati bukit berbatu cadas.4

Teman dari Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Jember pun memberhentikan mobil menyuruh kami untuk keluar menikmati pemandangan lekukan tanjung pantai Papuma dari ketinggian yang sungguh memesona. Menuju bibir pantai dengan medan yang menurun, kapal-kapal berwarna-warni para nelayan yang tengah bersandar usai melaut tampak berjajar sepanjang bibir pantai.

Para pengunjung terlihat asik kumpul bersama menghabiskan waktu bermain ombak dari tepian pantai, memancing dan bersantai di rumah-rumah makan dengan menu utama seafood dan rindangnya pepohonan yang sejuk melindungi panas matahari saat siang hari. Bagi yang ingin menjelajahi penuh diseputar pantai Papuma, pengunjung dapat mencoba trekking, outbound dan climbing di tempat yang telah disediakan juga ditemani oleh pemandu profesional juga tentunya.

papuma

Waktu mulai menunjukkan pukul 05.30 WIB, Warna pepohonan dan pasir pantai mulai berwarna kekuningan, bias kemerahan dan birunya langit mulai terlihat, beberapa kami bergegas naik menuju Siti Hinggil untuk melihat keindahan mentari mengakhiri tugasnya hari ini menerangi bumi Jember.

Air laut yang mulai naik dan karakter karang-karang besar nan gagah menjulang tinggi yang memecah dengan deburan ombak khas laut selatan menjadi panorama khas sunset di pantai Papuma. Karakter bebatuan dan keunikan bukan hanya dapat melihat sunset tetapi momentum sunrise pun dapat kita lihat di pantai ini.

6

Dengan pemandangan yang indah diramaikan oleh datangnya para nelayan membawa hasil tangkapannya, menjadi gambaran panorama indah di Papuma. Bukan hanya itu, kami pun dapat mengabadikan momentum milkyways dari bibir pantai. Pantai Tanjung Papuma yang kian tersohor namanya di telinga wisatawan domestik hingga mancanegara, sungguh memikat mata untuk semakin lama menikmatinya.

PAPUMA 15

Lanjut ke Pantai Payangan merupakan salah satu spot pantai yang indah di Kabupaten Jember. Pantai yang mulai mendapat perhatian dan kunjungan oleh para wisatawan ini ternyata tak kalah menarik. Panorama bibir pantai yang dilihat dari ketinggian menjadi khas dari pantai Payangan ini. Warna-warni perahu nelayan yang tengah bersandar di bibir pantai, hutan mangrove dan padang savana mini yang terhampar menjadi daya tarik tersendiri dari pantai Payangan ini. 

Tak jauh dari pantai Payangan sekitar 15 menit menggunakan kendaraan bermotor, pasir hitam yang terhampar sepanjang bibir pantai Watu Ulo juga merupakan destinasi pantai yang menarik. Nama pantai Watu Ulo berasal bahasa jawa yakni “batu ular” tersusun memang layaknya batu berbentuk ular.

WATU ULO 4

Tetapi, susunan batu yang seakan berbentuk ular itu mulai terkikis oleh ombak laut selatan yang terkenal besar. Yang sebelumnya, terlihat Watu Ulo tampak memanjang menjorok ke arah lautan, tetapi saat ini mulai mengalami mengikisan.

Keesokan harinya, karena Jember juga terkenal akan perkebunan kopi dan kakao, kami pun sengaja berangkat dari hotel pagi hari untuk datang ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, dimana sebagai tempat penelitian Kopi dan Kakao satu-satunya di Indonesia yang terletak di Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji, sekitar 12 km ke arah selatan 1 jam perjalanan dari Kota Jember.

puslit 1

Wisatawan bisa berwisata di areal perkebunan yang ditanami Kopi dan Kakao, juga komoditas pepohonan Mahoni. Di areal perkebunan seluas 160 hektar, para kita akan diajak untuk berkeliling menikmati keindahan perkebunan Kopi dan Kakao sambil menyaksikan sekaligus mempelajari pembibitan dan pembenihan, proses pengolahan dan menikmati secara langsung. Jika kita datang saat pagi hari sekitar kurang lebih 500 pekerja di perkebunan datang dengan sepeda khas onthel melewati rimbunnya pepohonan Mahoni yang cocok dijadikan objek foto human interest.

Asik hunting foto, tak terasa malam pun tiba. Berjalan di atas jembatan Jalan Mastrip, Kabupaten Jember, sekilas terdengar alunan nada musik yang semakin malam kian ramai. Rasa penasaran pun kian merasuki diri untuk mencari sumber nada-nada tersebut. Berjalan turun ke bawah, kendaraan bermotor memadati ruang parkir di sepanjang bawah jembatan.

kolong7

Suara alunan musik dan para kawula muda-mudi ramai berkumpul bernyanyi bersama menikmati malam panjang di sebuah Kafe yang menarik di kabupaten Jember ini. Meja dan kursi dari anyaman bambu yang memenuhi seisi kafe, tampak selalu padat setiap malamnya.

Kafe Kolong muncul dari ide liar Johanes Kris Astono, seorang pegiat organisasi pecinta alam Fakultas Ekonomi Universitas Jember. “Sebelumnya memang ingin punya warung kopi sendiri untuk nongkrong. Namun ini bukan kedai sembarangan, terdengar suara gemericik air sungai yang menemani kenikmatan minum secangkir kopi”, kata pria kelahiran Jember, 1 Desember 1970.

Sebelumnya, kolong jembatan ini memang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, tempat mabuk, judi dan lainnya. Dengan ide cemerlang Johanes inilah, konsep ruang kosong di sebuah kolong jembatan di sulap menjadi tempat nongkrong nyaman dan luar biasa. Kafe Kolong menjadi salah satu tempat yang dituju anak-anak muda dari luar kota yang datang ke Jember. Mereka berasal dari Surabaya, Malang, Jogjakarta dan lain-lain. Semua memuji dan suka dengan suasana kafe itu.

Minuman dan makanannya pun terbilang sederhana dengan harga yang cukup murah tentunya. Anda pun bisa memilih berbagai macam olahan kopi yang disajikan nikmat dengan atmosfer kafe yang sempurna. SENDY ADITYA SAPUTRA

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

handphone-tablet

Video

FANS PAGE FACEBOOK

Category

Calendar

December 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Asian Art